-
Sultan Agung, Sang Budayawan
Sabtu, 17 Mei 2014
Berikut ini adalah jawaban untuk No.4 Hal 163
benarkah sultan agung seorang budayawan? berikan penjelasan!
Ya, Sultan Agung memang seorang budayawan. sultan agung menaruh perhatian besar pada kebudayaan mataram.ia memadukan kalender hijriyah yang di pesisir utara dengan Kalender Saka yang masih dipakai di pedalaman. Hasilnya adalah terciptanya Kalender Jawa Islam sebagai upaya pemersatuan rakyat Mataram. Selain itu Sultan Agung juga dikenal sebagai penulis naskah berbau mistik, berjudul Sastra Gending.
Oleh : Ryzkianty Annis N
Sumber : http://brainly.co.id/tugas/108751
Diposting oleh Unknown di 09.45 | 0 komentar | Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook |
-
Sultan Ageng Tirtayasa, beliau adalah pahlawan yang berasal dari provinsi Banten. Lahir pada tahun 1631. Beliau putra dari Sultan Abdul Ma’ali Ahmad dan Ratu Martakusuma yang menjadi Sultan Banten periode 1640 - 1650. Beliau memiliki nama kecil Abdul Fatah. Perjuangan beliau salah satunya adalah menentang Belanda karena VOC menerapkan perjanjian monopoli perdagangan yang merugikan kesultanan dan rakyat Banten.

Sultan Ageng Titajasa
Dimasa mudanya beliau diberi gelar Pangeran surya. Peran Sultan Ageng dalam perkembangan Islam di Banten sangat berpengaruh. Dia menginginkan Banten mempunyai kerajaan Islam. Langkah yang beliau tempuh pertama dalam sektor ekonomi. Kesejahteraan rakyat ditingkatkan melalui pencetakan sawah-sawah baru serta irigasi yang sekaligus berfungsi sebagai sarana perhubungan.
Sultan Ageng tidak hanya mendobrak perekonomian rakyat menjadi lebih baik tetapi juga berperan besar di bidang keagamaan. Dia mengangkat Syekh Yusuf, seorang ulama asal Makassar, menjadi mufti kerajaan yang bertugas menyelesaikan urusan keagamaan dan penasehat sultan dalam bidang pemerintahan. Dia juga menggalakkan pendidikan agama, baik di lingkungan kesultanan maupun di masyarakat melalui pondok pesantren.
Ketika menjadi raja Banten, Sultan Ageng Tirtayasa dikenal cerdas dan menghargai pendidikan. Perkembangan pendidikan agama Islam maju dengan pesat. Nilai-nilai yang dimunculkan dari Sultan Ageng Tirtayasa. Sebagai seorang pemimpin, ia adalah pemimpin yang sangat amanah dan memiliki visi ke depan membangun bangsanya.
Sultan Ageng Tirtayasa adalah seorang pemimpin yang sangat visioner, ahli perencanaan wilayah dan tata kelola air, egaliter dan terbuka serta berwawasan internasional. Kesultanan Banten aktif membina hubungan baik dan kerjasama dengan berbagai pihak di sekitarnya atau di tempat yang jauh sekalipun.
Sekitar tahun 1677 Banten mengadakan kerjasama dengan Trunojoyo yang sedang memberontak terhadap Mataram. Dalam pada itu, dengan Makasar, Bangka, Cirebon, dan Indrapura dijalin hubungan baik. Karakter Sultan Ageng Tirtayasa mewakili karakter kepemimpinan dan intelektual. Bagi dia, kepentingan rakyat adalah segala-galanya. Ketegasan pemimpin juga tidak kalah penting.
Belanda akhirnya memakai strategi adu domba untuk menundukan Banten, yakni dengan menghasut Sultan Haji Anak tertua Sultan Ageng. Sultan Haji termakan hasultan Belanda dan mengira ayahnya akan menyerahkan kekuasaanya kepada Pangeran Purbanya, adik sultan Haji, sehingga terjadi perselisihan bahkan sampai terjadi peperangan antara ayah dan anak. Kerjasama Belanda dan Sultan Haji akhirnya dapat mengalahkan Sultan Ageng Tirtayasa. Pada tahun 1683, Sultan Ageng Tirtayasa berhasil ditangkap dan dibuang ke Batavia hingga wafat dipenjara pada tahun 1692. Sedangkan Pangeran Purbaya menyingkir ke daerah Priangan. Berdasarkan SK Presiden RI No. 045/TK 1970, nama Sultan Ageng Tirtayasa tercatat sebagai Pahlawan Nasional.
source : http://strategi-militer.blogspot.com/2013/01/biografi-singkat-sultan-ageng-titajasa.html
http://biografipedia.blogspot.com/2011/06/biografi-sultan-ageng-tirtayasa.html
Jawaban dari soal halaman 168 nomor 3 buku sejarah kemendikbud
Oleh : Oktavia Iffahni Putri / 29
Diposting oleh Unknown di 07.04 | 2 komentar | Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook |
-
Berikut ini merupakan jawaban dari pertanyaan halaman 168 no.2Menurut kepercayaan yang mereka anut, orang Kanekes mengaku keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga Kanekes mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia.Pendapat mengenai asal usul orang Kanekes berbeda dengan pendapat para ahli sejarah, yang mendasarkan pendapatnya dengan cara sintesis dari beberapa bukti sejarah berupa prasasti, catatan perjalanan pelaut Portugis dan Tiongkok, serta cerita rakyat mengenai 'Tatar Sunda' yang cukup minim keberadaannya. Masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda yang sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di Pakuan Pajajaran (sekitar Bogor sekarang). Sebelum berdirinya Kesultanan Banten, wilayah ujung barat pulau Jawa ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Sunda. Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar. Sungai Ciujung ramai digunakan untuk pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Dengan demikian penguasa wilayah tersebut, yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umum menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan. Untuk itu diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung Kendeng tersebut (Adimihardja, 2000). Perbedaan pendapat tersebut membawa kepada dugaan bahwa pada masa yang lalu, identitas dan kesejarahan mereka sengaja ditutup, yang mungkin adalah untuk melindungi komunitas Kanekes sendiri dari serangan musuh-musuh Pajajaran.Van Tricht, seorang dokter yang pernah melakukan riset kesehatan pada tahun 1928, menyangkal teori tersebut. Menurut dia, orang Kanekes adalah penduduk asli daerah tersebut yang mempunyai daya tolak kuat terhadap pengaruh luar (Garna, 1993b: 146). Orang Kanekes sendiri pun menolak jika dikatakan bahwa mereka berasal dari orang-orang pelarian dari Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda. Menurut Danasasmita dan Djatisunda (1986: 4-5) orang Baduy merupakan penduduk setempat yang dijadikan mandala' (kawasan suci) secara resmi oleh raja, karena penduduknya berkewajiban memelihara kabuyutan (tempat pemujaan leluhur atau nenek moyang), bukan agama Hindu atau Budha. Kebuyutan di daerah ini dikenal dengan kabuyutan Jati Sunda atau 'Sunda Asli' atau Sunda Wiwitan (wiwitan=asli, asal, pokok, jati). Oleh karena itulah agama asli mereka pun diberi nama Sunda Wiwitan. Raja yang menjadikan wilayah Baduy sebagai mandala adalah Rakeyan Darmasiksa.Masyarakat suku baduy banten termasuk salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar itulah salah satu keunikan Suku Baduy. Sehingga wajar mereka sangat menjaga betul ‘pikukuh’ atau ajaran mereka, entah berupa kepercayaan dan kebudayaan.Masyarakat suku baduy benar-benar menjaga adat Istiadatnya dan sangat menjaga alam sekitar. Mereka sadar bahwa mereka hidup dari alam dan berdampingan dengan alam, sehingga mereka harus memiliki kearifannya terhadap alam. Banyak ajaran Suku Baduy berupa larangan atau anjuran yang sebenarnya di khususkan untuk menjaga agar alam. Sampai saat ini, suku baduy dalam tidak mengenal budaya baca tulis. Yang mereka tahu, ialah aksara hanacaraka (aksara sunda). Anak-anak suku baduy dalam pun tidak bersekolah, kegiatannya hanya sekitar sawah dan kebun. Menurut meraka inilah cara mereka melestarikan adat leluhurnya. Meskipun sejak pemerintahan Soeharto sampai sekarang sudah di adakan upaya untuk membujuk mereka agar mengizinkan pembangunan sekolah, namun mereka selalu menolak. Sehingga banyak cerita atau sejarah mereka hanya ada di ingatan atau cerita lisan saja.Oleh : Aljira Fitya HapsariSumber : http://brainly.co.id/tugas/60351http://id.wikipedia.org/wiki/Orang_Kanekes
Diposting oleh Unknown di 03.40 | 0 komentar | Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook |
-
Skema Struktur Birokrasi Pemerintahan Kerajaan Mataram
Sabtu, 10 Mei 2014
Berikut ini adalah Jawaban Hal 163 No.3Nama : Ryzkianty Annis NurdinKelas : X science 1sumber : brainly.co.id
Diposting oleh Unknown di 05.53 | 4 komentar | Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook |
-
Proses Berdirinya Kerajaan Mataram
Jumat, 09 Mei 2014
Pertanyaan hal 163 no. 2
Kerajaan Mataram mulai berdiri tahun 1582, terletak didaerah Kota Gede sebelah tenggara kota Yogyakarta, kerajaan ini dipimpin suatu dinasti keturunan Ki ageng Sela dan Ki Ageng Pemanahan yang mengklaim masih keturunan penguasa Majapahit.Asal usul kerajaan ini adalah berasal dari sebuah kadipaten dibawah Kesultanan Pajang ( Sultan hadiwijaya),berpusat di Bumi Mentaok yang diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan sebagai hadiah atas jasanya mengalahkah Arya Penangsang, selanjutnya Ki Ageng Pemanahan mulai membangun Mataram sebagai tempat pemukiman baru dan persawahan, akan tetapi kehadiranya didaerah ini dan usaha pembangunanya mendapatkan tanggapan penguasa setempat, misalnya Ki Ageng Giring, Ki Ageng Tembayat dan Ki Ageng Mangir. Akan tetapi ada sebagian pejabat yang memberi sambutan baik akan hal itu seperti Ki Ageng Karanglo, walaupun demikian Ki Ageng Pemanahan tetap melakukan pembangunan didaerah tersebut yang berpusat di Plered dan juga mempersiapkan strategi untuk menundukkan siapa saja yang mementang kehadiranya.Tahun 1575 Ki Ageng Pemanahan meninggal dunia dan digantikan oleh putranya bernama Sutawijaya atau Pangerang Ngabehi Loring Pasar, selain beliau bertekad melanjutkan mimpi ayahandanya, dia pun bercita – cita untuk membebaskan diri dari kekuasaan Pajang, sehingga hubungan antara Mataram dan Pajang pun mulai memburuk hingga berujung peperangan. Dalam peperangan ini kerajaan Pajang mengalami kekalahan dan Sultan Hadiwijaya meninggal.Kemudian Sutawijaya mengangkat dirinya menjadi raja Mataram dengan gelar panembahan senopati . ia mulai membangun kerajaanya dan memindahkan pusat pemerintahan di Kotagede.Pada tahun 1590 kerajaan Mataram menaklukan Madiun, Jipang, Kediri kemudian melanjutkan dengan menaklukan Pasuruan dan Tuban.Sebagai raja islam yang baru beliau mempunyai tekad untuk menjadikan Mataram menjadi pusat budaya dan agam Islam, sebagai penerus kesultanan Demak.Kerajaan Mataram Islam saat itu menganut system Dewa – Raja. Yang berarti kekuasaan tertinggi mutlak berada pada Sultan.Sultan Wijaya meninggal dan dimakamkan diKotagede dan digantikan putranya bernama Mas jolang yang bergelar Prabu Hanyokrowati, pada masa ini tidak banyak mengalami kemajuan dikarenakan beliau meninggal karena kecelakaan saat berburu dihutan krapyak yang kemudian digantikan putra keempatnya yang bergelar Adipati Martoputro, akan tetapi karena Adipati Martoputro menderita penyakit syaraf maka tahta beralih ke putra sulung Mas jolang yang bernama Raden Mas Rangsang, pada masa ini kerajaan mataram mengalami kemajuan dan mengalami masa keemasan.Setelah menaklukan Madura beliau mengganti “ panembahan” dengan “Sesuhunan ( sunan) kemudian menggunakan gelar “Susuhunan Hanyakrakusuma” terakhir tahun 1640 sehabis dari Makkah beliau menyandang gelar “Sultan Agung Senopati Ing Alaga Abdurrahman “ dan beliau memindahkan lokasi kraton ke “Karta “ akibat terjadi gesekan penguasaan perdagangan antara Mataram dan VOC yang berpusat di Batavia.Setelah Sultan Agung meninggal, digantikan putra beliau “Sesuhunan Amangkurat 1, beliau memindahkan lokasi kraton ke Pleret pada tahun 1647 tidak jauh dari “Karta”selain itu beliau juga tidak lagi menggunakan gelar sultan melainkan Sunan ( Sesuhunan atau yang pertuan ) pada masa ini kerajaan Mataram kurang stabil karena banyak ketidak puasan dan pemberontakan, pada masanya terjadi pemberontakan besar yang dipimpin oleh seorang bangsawan dari Madura bernama Trunajaya yang akhirnya berhasil mengalahkan Mataram , Amangkurat 1 melarikan diri dan meningga dalam pelarianya yaitu di Tegalarum ( 1677 )sehingga mendapat julukan Sunan Tegalarum, kemudian diganti oleh putranya Amangkurat II , beliau bergabung dengan VOC untuk mengalahkan pasukan Trunajaya dan akhirnya berhasil .Dalam masa ini Amangkurat II sangat patuh kepada VOC sehingga menimbulkan ketidak puasan dikalangan istana dan akhirnya banyak pemberontakan terjadi lagi. Pada masa ini keraton Mataram dipindahkan ke Kartasura ( 1680 ).Setelah Amangkurat II meninggal diganti Amangkurat III, tetapi VOC tidak senang dengan Amangkurat III karena dia menentang VOC sehingga VOC mengangkat Pakubuwana I sebagai raja,akibatnya Mataram memiliki dua raja dan inilah yang menjadikan perpecahan Internal, AmangkuratIII akhirnya memberontak tapi akhirnya kalah dan ditangkap diBatavia lalu diasingkan di Ceylon,Srilanka.dan meninggal tahun 1734.Kekacauan politik dari masa kemasa akhirnya dapat terselesaikan pada masa Pakubuana III setelah wilayah Mataram dibagi menjadi dua yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Suarakarta tanggal 13 Februari 1755, pembagian wilayah ini tertuang dalam Perjanjian Gayanti , perjanjian Giyanti adalah kesepakatan yang dibuat oleh pihak VOC, pihak Mataram( diwakili oleh Pakubuwana III) dan kelompok pangeran Mangkubumi. Nama Giyanti diambil dari lokasi penjanjian tersebut ( ejaan Belanda, sekarang tempat itu berlokasi didukuh Kerten , Desa Jantiharjo) ditenggara kota Karanganyar, Jawa Tengah, perjanjian ini menandai berakhirnya kerajaan Mataram yang sepenuhnya independen. Berdasarkan perrjanjian ini wilayah Mataram terbagi menjadi dua, wilayah disebelah timur kali Opak dikuasai oleh pewaris tahta Mataram yaitu Sunan Pakubuwana III dan tetap berkedudukan di Surakarta, sementara wilayah disebelah barat diserahkan kepada Pangeran Mangkubumi sekaligus ia diangkat menjadi Sultan Hamengkubuwono I yang berkedudukan di Yogyakarta.Perpecahan terjadi lagi dengan munculnya Mangkunegara ( R.M Said) yang terlepas dari kesunanan Surakarta dan Pakualaman ( P. Nata Kusuma) , dan keempat pecahan Mataram Kesultanan Mataram tersebut masih melanjutkan dinasti masing – masing , bahkan pecahan Mataram tersebut terutama kesultanan Yogyakarta masih cukup besar dan diakui masyarakat.Sumber : limihati.Blogspot.comOleh : Arsyad MaksumDiposting oleh Unknown di 05.28 | 0 komentar | Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook |
-
Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Demak
Kamis, 08 Mei 2014
Jelaskan tentang latar belkang berdirinya kerajaan demak! (Uji Kopetensi Hal. 163 No. 1)
Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Sebelumnya kerajaan Demak merupakan keadipatian vazal dari kerajaan Majapahit. Kerajaan ini didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1500 hingga tahun 1550 (Soekmono: 1973). Raden patah adalah bangsawan kerajaan Majapahit yang telah mendapatkan pengukuhan dari Prabu Brawijaya yang secara resmi menetap di Demak dan mengganti nama Demak menjadi Bintara.(Muljana: 2005).
Raden Patah menjabat sebagai adipati kadipaten Bintara, Demak. Atas bantuan daerah-daerah lain yang sudah lebih dahulu menganut islam seperti Jepara, Tuban dan Gresik, ia mendirikan Kerajaan Islam dengan Demak sebagai pusatnya. Raden patah sebagai adipati Islam di Demak memutuskan ikatan dengan Majapahit saat itu, karena kondisi Kerajaan Majapahit yang memang dalam kondisi lemah. Bisa dikatakan munculnya Kerajaan Demak merupakan suatu proses Islamisasi hingga mencapai bentuk kekuasaan politik. Apalagi munculnya Kerajaan Demak juga dipercepat dengan melemahnya pusat Kerajaan Majapahit sendiri, akibat pemberontakan serta perang perebutan kekuasaan di kalangan keluarga raja-raja.( Poesponegoro: 1984).
Sebagai kerajaan Islam pertama di pulau Jawa, Kerajaan Demak sangat berperan besar dalam proses Islamisasi pada masa itu. Kerajaan Demak berkembang sebagai pusat perdagangan dan sebagai pusat penyebaran agama Islam. Wilayah kekuasaan Demak meliputi Jepara, Tuban, Sedayu Palembang, Jambi dan beberapa daerah di Kalimantan. Di samping itu, Kerajaan Demak juga memiliki pelabuhan-pelabuhan penting seperti Jepara, Tuban, Sedayu, Jaratan dan Gresik yang berkembang menjadi pelabuhan transito (penghubung).
Sumber: http://brainly.co.id/tugas/61382
Oleh: Taris RadifanDiposting oleh Unknown di 06.50 | 0 komentar | Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook |
-
Sejarah Kesultanan Banten Kerajaan Islam di Indonesia
Sabtu, 03 Mei 2014
Sejarah Kesultanan Banten Kerajaan Islam di IndonesiaKerajaan Banten berawal sekitar tahun 1526, ketika kerajaan Demak memperluas pengaruhnya ke kawasan pesisir barat pulau Jawa, dengan menaklukan beberapa kawasan pelabuhan kemudian menjadikannya sebagai pangkalan militer serta kawasan perdagangan. Maulana Hasanuddin atau Fatahillah yang merupakan putera Sunan Gunung Jati berperan dalam penaklukan tersebut dengan mendirikan benteng yang dinamakan Surosowan, yang kemudian menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Banten.Pada awalnya kawasan Banten dikenal dengan nama Banten Girang yang merupakan bagian dari Kerajaan Sunda. Tujuan pasukan Maulana Hasanuddin ke kawasan tersebut untuk perluasan wilayah sekaligus penyebaran dakwah Islam. Kemudian diicu oleh adanya kerjasama antara Sunda-Portugis dalam bidang ekonomi politik, hal ini dapat membahayakan kedudukan kerajaan demak selepas kekalhaan mereka mengusir portugis dari malaka tahun 1913. Atas perintah Sultan Trenggono, Fatahillah melakukan penyerangan dan penkalukan Sunda Kelapa tahun 1527, yang pada saat itu masih meruupakan pelabuhan utama Kerajaan Sunda.Selain mulai membangun benteng ertahana di Banten, Fatahillah juga melakukan perluasan kekuasaan ke daerah penfhasil Lada di Lampung dan melakukan kontak dagang dengan Raja Malangkabu ( Minangkabau, Kerajaan Indrapura), Sultan Munawar Syah dan dianugrahi keris oeh raja tersebut.Setelah Sultan Trenggono wafat, kerajaan Demak mulai mundur dan Banten melepaskan diri dan membuat kerajaan mandiri. Tahun 1570 Fatahillah wafat dan digantikan anaknya yaitu Pangeran Yusuf.Pada masa Pangeran Yusuf, tahun 1579 daerah daerah dibawah Pajajaran ditaklukan dan membuat kubu kubu pertahanan. Tahun 1580, Pangeran Yusuf wafat dan digantikan oleh puteranya yaitu Maulana Muhammad. Tahun 1596, Maulana Muhammad melancarkan serangan ke Palembang yang saat itu diperintah oleh Ki Gede ing Suro (1572-1627) yang merupakan penyiar agama islam asal Surabaya yang kala itu kerajaan Palembang lebih setia kepada Mataram dan merupakan saingan kerjaan Banten. Kerajaan Palembang dapat dikepung dan hampir dapat ditaklukan, namun tiba-tiba Maulana Muhammad terkena tembakan musuh dan meninggal. Oleh karena itu ia disebut Prabu Seda ing Palembang. Akhirnya tentara Banten mundur.Putra Maulana Muhammad yang bernama Abumufakir Mahmud Abdul Kadir, masih kanak-kanak. Pemerintahan digantinkan oleh sang Mangkubumi. Mangkubumi berhasil disingkirkan Pangeran Manggala. Setelah Abumufakir cukup dewasa, pemerintahan sepenuhnya dipegang oleh Abumufakir.Tahun 1596 Belanda datang ke pelabuhan Banten untuk yang pertama kali. Lalu mereka melakukakn hubungan dagang dengan Banten. Namun Belanda bersikap angkuh dan sombong, bahkan berbuat kekacauan. Banten pun mengusir Belanda. Dua tahun kemudian Belanda datang lagi dengan sikap yang baik, sehingga dapat berdagang di Banten dan Jayakarta.Abad ke 17 banten mencapai masa keemasan. Setelah Abumufakir wafat, ia digantikan oleh Abumali Achmad. Setelah itu digantikan oleh Sultan yang terkenal yaitu Sultan Abdulfattah atau Sultan Ageng Tirtayasa yang memerintah tahun 1651-1682.Pada masa akhir pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa timbul konflik dalam istana. Raja muda Sultan Haji dihasut oleh VOC untuk menentang Sultan Ageng Tirtayasa dengan melakukan politik adu domba. Berakhirnya kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa membuat semakin kuatnya VOC. Sedangkan raja raja pengganti Sultan Ageng Tirtayasa bukanlah raja raja yang kuat. Maka berakhirlah kerajaan Banten.Oleh : Finia Nur CSumber : Buku sejarah kelas 10Diposting oleh Unknown di 04.57 | 1 komentar | Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook |


