Rss Feed
  1. Nama :finia nur chaerunisa. Kelas : 10 ipa1. Tugas hal 176 no 4

    Ternate merupakan kerajaan Islam di timur yang berdiri pada abad ke-13 dengan raja Zainal Abidin (1486-1500). Zainal Abidin adalah murid dari Sunan Giri di Kerajaan Demak. Kerajaan Tidore berdiri di pulau lainnya dengan Sultan Mansur sebagai raja. Di Maluku terdapat dua kerajaan yang berpangaruh, yakni Ternate dan Tidore. Kerajaan Ternate terdiri dari persekutuan lima daerah, yaitu Ternate, Obi, Bacan, Seram, Ambon, (disebut Uli Lima) sebagai pimpinannya adalah Ternate. Adapun Tidore terdiri dari sembilan satuan negara disebut Uli Siwa yang terdiri dari Makyan, Jailolo, dan daerah antara Halmahera-Irian.
    Kerajaan yang terletak di Indonesia Timur menjadi incaran para pedagang karena Maluku kaya akan rempah-rempah. Pada masa itu, kepulauan maluku merupakan penghasil rempah-rempah terbesar sehingga di juluki sebagai "The Spicy Island". Rempah-rempah menjadi komoditas utama dalam dunia perdagangan pada saat itu, sehingga setiap pedagang maupun bangsa-bangsa yang datang dan bertujuan ke sana, melewati rute perdagangan tersebut agama islam meluas ke maluku, seperti Ambon, ternate, dan tidore. Keadaan seperti ini, telah mempengaruhi aspek-aspek kehidupan masyarakatnya, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya.
    Tanah di Kepulauan maluku itu subur dan diliputi hutan rimba yang banyak memberikan hasil diantaranya cengkeh dan di kepulauan Banda banyak menghasilkan pala. Pada abad ke 12 M permintaan rempah-rempah meningkat, sehingga cengkeh merupakan komoditi yang penting. Pesatnya perkembangan perdagangan keluar dari maluku mengakibatkan terbentuknya persekutuan. Selain itu mata pencaharian perikanan turut mendukung perekonomian masyarakat.
    Rakyat Maluku, yang didominasi oleh aktivitas perekonomian tampaknya tidak begitu banyak mempunyai kesempatan untuk menghasilkan karya-karya dalam bentuk kebudayaan. Jenis-jenis kebudayaan rakyat Maluku tidak begitu banyak kita ketahui sejak dari zaman berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam seperti Ternate dan Tidore.
    Kedatangan Islam ke Maluku tidak dapat dipisahkan dari jalur perdagangan yang terbentang antara pusat lalu lintas internasional di Malaka, Jawa, dan Maluku. Menurut tradisi setempat, sejak abad ke-14, Islam sudah masuk daerah Maluku. Raja Ternate kedua belas, Molomateya (1350-1357) bersahabat karib dengan orang Arab yang memberi petunjuk mengenai cara membuat kapal.
     Kerajaan Ternate cepat berkembang berkat hasil rempah-rempah terutama cengkih. Kerajaan Makassar dan Si Ayam Jantan dari Timur Ternate dan Tidore hidup berdampingan secara damai. Namun, kedamaian itu tidak berlangsung selamanya. Setelah Portugis dan Spanyol datang ke Maluku, kedua kerajaan berhasil diadu domba. Akibatnya, antara kedua kerajaan tersebut terjadi persaingan. Portugis yang masuk Maluku pada tahun 1512 menjadikan Ternate sebagai sekutunya dengan membangun benteng Sao Paulo. Spanyol yang masuk Maluku pada tahun 1521 menjadikan Tidore sebagai sekutunya.
    Dengan berkuasanya kedua bangsa Eropa itu di Tidore dan Ternate, terjadi pertikaian terus-menerus. Hal itu terjadi karena kedua bangsa itu sama-sama ingin memonopoli hasil bumi dari kedua kerajaan tersebut. Ketika bangsa Portugis datang ke Ternate, mereka bersekutu dengan bangsa itu (1512). Demikian juga ketika bangsa Spanyol datang ke Tidore, mereka juga bersekutu dengan bangsa itu (1512). Portugis akhirnya dapat mendirikan benteng Sao Paulo di Ternate dan banyak melakukan monopoli perdagangan.  Di lain pihak, ternyata bangsa Eropa itu bukan hanya berdagang tetapi juga berusaha menyebarkan ajaran agama mereka. Penyebaran agama ini mendapat tantangan dari Raja Ternate, Sultan Khairun (1550-1570). Ketika diajak berunding oleh Belanda di benteng Sao Paulo, Sultan Khairun dibunuh oleh Portugis. Setelah sadar bahwa mereka diadu domba, hubungan kedua kerajaan membaik kembali. Sultan Khairun kemudian digantikan oleh Sultan Baabullah (1570-1583). Pada masa pemerintahannya, Portugis berhasil diusir dari Ternate. Keberhasilan itu tidak terlepas dari bantuan Sultan Tidore.
    Sultan Khairun juga berhasil memperluas daerah kekuasaan Ternate sampai ke Filipina. Sementara itu, Kerajaan Tidore mengalami kemajuan pada masa pemerintahan Sultan Nuku. Sultan Nuku berhasil memperluas pengaruh Tidore sampai ke Halmahera, Seram, bahkan Kai di selatan dan Misol di Irian. Dengan masuknya Spanyol dan Portugis ke Maluku, kehidupan beragama dan bermasyarakat di Maluku jadi beragam: ada Katolik, Protestan, dan Islam. Pengaruh Islam sangat terasa di Ternate dan Tidore.
    Pengaruh Protestan sangat terasa di Maluku bagian tengah dan pengaruh Katolik sangat terasa di sekitar Maluku bagian selatan. Maluku adalah daerah penghasil rempah-rempah yang sangat terkenal bahkan sampai ke Eropa. Itulah komoditi yang menarik orang-orang Eropa dan Asia datang ke Nusantara. Para pedagang itu membawa barang-barangnya dan menukarkannya dengan rempah-rempah. Proses perdagangan ini pada awalnya menguntungkan masyarakat setempat. Namun, dengan berlakunya poliutik monopoli perdagangan, terjadi kemunduran di berbagai bidang, termasuk kesejahteraan masyarakat.
    Sultan Baabullah (1570-1583) memimpin perlawanan untuk mengenyahkan Portugis dari Maluku sebagai balasan terhadap kematian ayahnya. Benteng Portugis dikepung selama 5 tahun, tetapi tidak berhasil. Sultan Tidore yang berselisih dengan Ternate kemudian membantu melawan Portugis. Akhirnya, benteng Portugis dapat dikuasai setelah Portugis menyerah karena dikepung dan kekurangan makanan. Tokoh dari Tidore yang anti-Portugis adalah Sultan Nuku.
    Pada tanggal 17 Juli 1780, Pata Alam dinobatkan sebagai vasal dari VOC dengan kewajiban menjaga keamanan di wilayahnya, yaitu Maba, Weda, Patani, Gebe, Salawatti, Missol, Waiguna, Waigen, negeri-negeri di daratan Irian, Pulau Bo, Popa, Pulau Pisang, Matora, dan sebagainya. Di sisi lain, Nuku terus mengadakan perlawanan terhadap Belanda di Ternate dan Tidore.
    Pada tahun 1783, Pata Alam menjalankan strategi untuk meraih loyalitas raja-raja Irian. Akan tetapi, usaha tersebut menemui kegagalan, karena para utusan dengan pasukan mereka berbalik memihak Nuku. Akhirnya, Pata Alam dituduh oleh Kompeni bersekongkol dengan Nuku. Pata Alam ditangkap dan rakyat pendukungnya dihukum. Peristiwa ini sering disebut Revolusi Tidore (1783).
    Untuk mengatur kembali Tidore, pada tanggal 18 Oktober 1783, VOC mengangkat Kamaludin untuk menduduki takhta Tidore sebagai vasal VOC. Di sisi lain, perjuangan Nuku mengalami pasang surut. Pada tahun 1794, gerakan tersebut mendapat dukungan dari Inggris. Sekembalinya dari Sailan, Pangeran Jamaludin beserta angkatannya menggabungkan diri dengan Nuku. Pada tanggal 12 April 1797 Angkatan Laut Nuku muncul di Tidore. Hampir seluruh pembesar Tidore menyerah, kecuali Sultan Kamaludin berserta pengawalnya. Mereka menyerahkan diri ke Ternate. Tidore diduduki oleh Nuku hingga meninggal tanggal 14 November 1805 dan digantikan oleh Zaenal Abidin.

    Sumber : http://wartasejarah.blogspot.com/2013/12/kerajaan-ternate-dan-tidore.html?m=1

  2. Perjanjian Bungaya

    Minggu, 25 Mei 2014

    Sultan Hasanuddin lahir di Makassar, merupakan putera kedua dari Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-15. Sultan Hasanuddin memerintah Kerajaan Gowa, ketika Belanda yang diwakili Kompeni sedang berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah. Gowa merupakan kerajaan besar di wilayah timur Indonesia yang menguasai jalur perdagangan.
    Pada tahun 1666, di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, Kompeni berusaha menundukkan kerajaan-kerajaan kecil, tetapi belum berhasil menundukkan Gowa. Di lain pihak, setelah Sultan Hasanuddin naik takhta, ia berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk melawan Kompeni.
    Pertempuran terus berlangsung, Kompeni menambah kekuatan pasukannya hingga pada akhirnya Gowa terdesak dan semakin lemah sehingga pada tanggal 18 November 1667 bersedia mengadakan Perjanjian Bungaya di Bungaya.


    Berikut isi dari perjanjian Bungaya :

    1. VOC menguasai monopoli perdagangan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.


    2. Makasar harus melepas seluruh daerah bawahannya, seperti Sopeng, Luwu, Wajo, dan Bone.


    3. Aru Palaka dikukuhkan sebagai Raja Bone.


    4. Makasar harus menyerahkan seluruh benteng-bentengnya.


    5. Makasar harus membayar biaya perang dalam bentuk hasil bumi kepada VOC setiap tahun.

    Gowa merasa dirugikan, karena itu Sultan Hasanuddin mengadakan perlawanan lagi. Akhirnya pihak Kompeni meminta bantuan tentara ke Batavia. Pertempuran kembali pecah di berbagai tempat. Sultan Hasanuddin memberikan perlawanan sengit. Bantuan tentara dari luar menambah kekuatan pasukan Kompeni, hingga akhirnya Kompeni berhasil menerobos benteng terkuat Gowa yaitu Benteng Sombaopu pada tanggal 12 Juni 1669. Sultan Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dari takhta kerajaan dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670.

    Asal muasal kata Bungaya memiliki banyak versi. Seorang tokoh masyarakat di daerah Barombong, Daeng Manangkasi mengungkapkan, Bungaya berasal dari kata Bunga, yang bermakna kembang. Menurutnya, Perjanjian Bungaya itu ditandatangai dengan harapan terwujudnya perdamaian sebagaimana damainya rupa bunga, dan menghindari jatuhnya korban yang lebih banyak dari masyarakat Gowa.

    Pada intinya, Sultan Hasanudin terpaksa bersedia menandatangani perjanjian Bungaya yang sebetulnya merugikan Kerajaan Gowa atas dasar rasa kemanusiaan untuk menghentikan atau mengurangi jumlah korban yang terus berjatuhan dalam perselisihan antara pihak kompeni dan Kerjaaan Gowa.

    Dalam mengambil segala keputusan, hendaknyalah kita berpikir matang terlebih dahulu dan mempertimbangakan untung rugi dari keputusan yang akan kita ambil. Sikap Sultan Hasanudin adalah sikap seorang pemimpin yang bijak, ia menandatangani perjanjian Bungaya demi melindungi masyarakat gowa dari para kompeni dan menciptakan perdamaian.

    Jawaban dari pertanyaan :
    Jelaskan apa makna dan pelajaran yang kita peroleh tentang perjanjian Bungaya di Sulawesi! (Halaman 174).

    Romi Putra
    X IPA 1

    Sumber :
    http://buihkata.blogspot.com/2012/11/isi-perjanjian-bongaya.html
    http://id.wikipedia.org/wiki/Perdamaian_Bungaya
    http://www.inibangsaku.com/menelusuri-jejak-sejarah-perjanjian-bungaya/
    http://id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Hasanuddin



  3. Jawaban hal 195 No 2

     Bagaimana proses akulturasi antar budaya lama dengan budaya Islam dapat berlangsung secara damai dan saling melengkapi?

    Menurut saya, proses budaya lama dan budaya Islam dapat berakulturasi karena saling beradaptasi & menyisipkan budaya antar keduanya. Dan dengan adanya toleransi budaya satu sama lain, maka dalam budaya Islam yang tidak keluar dari budaya lama Indonesia akan diserap dan diadaptasi. Sehingga menciptakan suatu budaya baru dari hasil akulturasi, dengan saling melengkapi antar keduanya dengan tidak terjadinya hilangnya budaya lama yang akhirnya dapat terjadi secara damai.

    Oleh : Ryzkianty Annis Nurdin
    Kelas : X IPA 1

  4. Uji Kompetensi hal 195

    Nilai-nilai karakter yang dapat diperoleh  dari perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia..!

    1. Kita harus dapat menjaga  persaudaraan walau tempat kita satu sama lain terlampau jauh.
    2. Tidak pantang menyerah dalam melakukan hal-hal baik walapun banyak rintangan menghadang.
    3. Bisa memanfaatkan segala situasi yang ada untuk melakukan hal baik.

    Andreas Augustinus Manurung (05)
    X IPA 1
     



  5. Kerajaan Islam di Indonesia diperkirakan kejayaannya berlangsung antara abad ke-13 sampai dengan abad ke-16. Timbulnya kerajaan-kerajaan tersebut didorong olehmaraknya lalu lintas perdagangan laut dengan pedagang-pedagang Islam dari Arab, India,Persia, Tiongkok, dll. Kerajaan tersebut dapat dibagi menjadi berdasarkan wilayah pusat pemerintahannya, yaitu di Sumatera, Jawa, Maluku, dan Sulawesi.




    Kerajaan Islam di Sumatera
    Periode tahun tepatnya kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera masih simpang siur dan memerlukan rujukan lebih lanjut.* Kesultanan Perlak (abad ke-9 - abad ke-13)
    * Kesultanan Samudera Pasai (abad ke-13 - abad ke-16)
    * Kesultanan Malaka (abad ke-14 - abad ke-17)
    * Kesultanan Aceh (abad ke-16 - 1903)

    Kerajaan Islam di Jawa
    * Kesultanan Demak (1500 - 1550)
    * Kesultanan Pajang (1568 - 1618)
    * Kesultanan Mataram (1586 - 1755)
    * Kesultanan Cirebon (sekitar abad ke-16)

    Kerajaan Islam di Maluku
    * Kesultanan Ternate (1257 - 1583)
    * Kesultanan Tidore (1110 - 1947?)
    * Kesultanan Jailolo* Kesultanan Bacan

    Kerajaan Islam di Sulawesi
    * Kesultanan Makasar (awal abad ke-16 - 1667?)
    * Kesultanan Buton (1332 - 1911)

    pendiri (paramisara)Megat Iskandar Syah –> Sultan ISultan Mansyur Syah –> terbesar -Laksamana Hang Tuah berhasil menguasai seluruhgerak perdagangan dan pelayaran Selat Malaka dan Selat KarimataSebab keruntuhan: Dikuasai Portugis[1511]

    Kerajaan Aceh
    Faktor pendorong perkembangan Aceh:
    a. letak yang strategis di selat Malaka
    b. Aceh merupakan penghasil lada
    c. Wilayah Aceh merupakan wilayah yang cerah untuk perdagangan
    Peranan Aceh:a. pusat perdagangan dan pusat pelayaran
    b. pusat penyebaran agama Hindu

    Raja Aceh
    a. Sultan Ibrahim
    b. Sultan Iskandar Mudac. Sultan Iskandar Thani Karya sastra:
    Bustanu’ssalatin
    [kitab raja-raja] –> dikarangoleh:

    Nuruddin ar Raniri
    Politik luar negeri: bebas[mau berteman dgn siapa saja]asal tidak membahayakan kedaulatan Aceh. Politik dalam negeri: Sebab kemunduran Aceh:
    a. Tidak ada regenerasi pimpinan
    b. Perebutan kekuasaan diantara Tengku dan Teuku
    c. Banyak wilayah yang melepaskan diri
    Kerajaan Demak
    Terletak di Jateng Bagian BaratRaja-raja Demak:
    1. Raden Patah[putra raja Majapahit Brawijaya][pendiri]
    2. Pati Unus
    3. Sultan Trenggono[masa kejayaan]Merupakan daerah tempat berkumpulnya para wali sehingga wilayah inimerupakan pusat agama Islam.
    Peninggalan Islam:
    a. Mesjid Agung Demak
    b. Makam Panjangc. Makam Sunan Kalijagad. Makam Ratu Kalinyamat Ki Ageng Sela | Ki Penjawi + Ki Gede Pamanahan + Ki JuruMertani Adipati Pati Sutawijaya [wil digabung] [anak angkat S. Hadiwijaya(raja pajang]. Sultan Trenggono wafat, wilayah beralih ke Pajang. Raja yang berkuasa: Sultan Hadi Wijaya (Joko Tingkir/ Mas Karebet). SesudahHadiwijaya mangkat kerajaan pindah ke Mataram

    Kerajaan Mataram
    Terletak di Jawa Tengah Selatan (Yogyakarta dan Selo)Terdiri atas 4 bagian:
    a. Kutanegara
    b. Negara Agung
    c. Pesisir
    d. Mancanegara
    Raja-raja Mataram:
    a. Sutawijaya /Mas Ngabehi Loring Pasar/ Senopati Ing Ngalaga Khalifatullah DayidinPanatagama.
    b. Mas Jolang (lemah) (S. Hanyakrawati)
    c. Mas Rangsang[Sultan Agung Hanyakrasuma]->kuat, menentang Belanda. MenyerangJayakarta 3 kali tapi gagal semua.
    d. S. Amangkurat (memihak Belanda)
    e. Amangkurat II (memihak Belanda
    f. Amangkurat III (memihak Belanda) Terjadi perselisihan Amangkurat III denganP.Mangkubumi,Mereka mengadakan
    perjanjian “Giyanti”
    :a. Amangkurat III menguasai Surakarta
    b. P. Mangkubumi menguasai Yogyakarta 1757

    Perjanjian Salatiga
    :a. Surakarta dibagi2, yang satu milik Amangkurat, bergelar Sunan Paku Buana; yang satulagi milik P. Sambernyawa, bergelar Mangkunegara
    b.Yogyakarta dibagi2 yang satu milik S. Hamengkubuono, yang satu milik Pakualam
    Faktor penyebab kegagalan Sultan Agung:
    1. Kesalahan strategi [tiba pada saat musim hujan]
    2. Penyakit sampar
    3. Lumbung padi di Magelang, Kerawang, Pemalang dibakar
    4. Pengkhianatan
    5. Kalah persenjataan

    Peninggalan Kerajaan Mataram:
    a. Keraton Yogyakarta dan Surakarta
    b. Pura Mangkunegara&Pura Pakualam
    c. Peninggalan yang berupa sastra: Serat Wulung Reh[karya Ranggawarsita]
    d. Peninggalan yang berupa benda pusaka: Senjata, kereta, manusia pendek, binatang,alun-alun, beringin, manusia bajang, manusia berkulit putih
    e. Mangkunegara ke IVmenulis Serat Centini
    f. Sastra Gending-oleh Sultan Agung

    Cirebon dan Banten
    Pendiri Cirebon dan Banten: Fatahillah/ Faletehan/ Sunan Gunungjati. Setelahmendirikan Cirebon, Fatahillah mengusir Portugis dan Banten. Setelah mengusir mereka,Fatahillah kembali ke Cirebon, kekuasaan diserahkan ke anaknya SultanHassanuddin Raja Banten yang kedua adalah Syeh Maulana Yusuf. Ia merebut ibukotakerajaan Hindu Pajajaran di Pakuan Masa kejayaan: Sultan Ageng Tirtayasa Komoditi barang utama: Lada, termasuk rempah-rempah.

    Keistimewaan Banten:
    a.Letak strategis, di tepi Selat Sunda
    b.Termasuk basis Islam yang kuat.c. Wilayahnya: Sunda Kelapa, Banten, Cirebond.Pada masa Hassanuddin wilayah: Lampung, Bengkulu, Palembange. Terjadi pertentangan antara S. Ageng Tirtayasa dgn S. Haji, karena S. Agengmenentang Belanda, sedangkan S. Haji berhasil dibujuk oleh VOC. Ia menandatangani Perjanjian Banten.
    Perjanjian Banten:
    1. VOC monopoli lada di Banten
    2. S. haji menjadi raja, 1/3 wilayah milik Belanda Ada 3 keraton Cirebon: KeratonKasepuhan, Kanoman, Kacirebonan

    Kerajaan Banjarmasin
    Didirikan Pangeran Samudera, gelarnya Sultan Suryanullah Pusat kerajaan: KotaBanjarmasin. Selama Perang Makassar, pedagang Melayu mengungsi ke Banjarmasin,hingga hubungan Banjarmasin-Mataram kuat karena ada unsur menentang Belanda.

    Kerajaan Gowa-Tallo
    Kerajaan Sulawesi Selatan: Gowa-Tallo, Wajo, Sopeng, Bone Ada persainganantara Gowa dengan Bone Kerajaan Bone membentuk aliansi Tellumpocco dengan Wajodan Sopeng, Gowa-Tallo menang Bandar utama: Somba Opu Raja Gowa: DaengManrabbia[Sultan Alaudin]-raja pertama yang Islam.Ia menyebarkan Islam di seluruh wilyahnya Masa kejayaan: Sultan Hassanuddin

    Kerajaan Ternate dan Tidore
    Maluku Utara, 4 kerajaan: Jailolo[halmahera], Ternate, Tidore, Bacan AgamaIslam disebarkan Sunan Giri dari Gresik Banyak kaum muslimin yang berguru padaSunan Giri di Gresik, hingga hubungan perdagangan antara Maluku dan pedagang Jatimramai. Raja Ternate yg pertama memeluk Islam: Zainal Abidin Maluku akhirnya terbagimenjadi 2 wilayah pengaruh:a. Uli Lima : di bawah Kerajaan Ternate b. Uli Siwa : di bawah Kerajaan Tidore

    Muhammad Abdul Jabbar
    X IPA 1

    Dikutip dari : http://whiteshoes21.blogspot.com/2012/03/sejarah-dan-perkembangan-kerajaan-islam.html

  6. ISLAM dan Integrasi Bangsa

    Kata integrasi berasal dari kata bahasa inggris "integration", yang berarti keseluruhan. Dalam hal integrasi bangsa, sebuah kekuatan bangsa yang ampuh dilahirkan dan segala persoalan dapat dihadapi bersama. Agama Islam memegang peran yang sangat besar dalam pewujudan integrasi ini.

    Agama Islam mengajarkan kebersamaan dan toleransi. Karena itu, sistem kasta yang dipakai Agama Hindu tidak dikenal atau diajarkan. Ajaran Islam mengarah kepada persatuan dan persamaan derajat. Ketika kerajaan-kerajaan Islam pertama muncul, terdapat tanda-tanda bahwa Islam berhasil membina integrasi antar-warganya. Integrasi bangsa harus kita pertahankan agar bangsa bisa terus maju dan tidak terhambat oleh kegiatan yang tidak bermanfaat seperti pemakaian narkoba, berjudi, dll.

    Sumber: Nuh, Mohammad. 2013. "Sejarah Indonesia". Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia 

    Nama: Muhammad Jordan Diandraputra

    Kelas: X IPA 1    

  7. Walisongo atau Walisanga dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke-17. Mereka menyebarkan agama islam menggunakan berbagai sarana..Salah satu sarana yang mereka gunakan sebagai media dakwah mereka adalah wayang.

    Kesenian wayang kulit telah mendarah daging pada masyarakat Indonesia (khususnya Jawa dan Bali) sehingga sulit untuk menghilangkan dan menggantinya dengan kebudayaan Islam. Karena kesulitan untuk menghilangkan sesuatu yang telah melekat di dalam hati, maka para Wali Songo tidak kehilangan akal. Agar dakwah yang mereka lakukan berjalan lancar, maka salah satu cara yang ditempuhnya adalah dengan cara memasukkan ajaran Islam ke dalam pertunjukan wayang kulit.
    Sunan Kalijaga mementaskan Wayang kulit dengan cerita dan dialog sekitar Tasawuf dan akhlaqul karimah, untuk melemahkan masyarakat yang pada waktu itu beragama Hindu dan Budha yang ajarannya berpusat pada kebatinan. Pada masa itu saat Majapahit masih cukup berkuasa, Sunan Kalijaga berusaha memasukan unsur-unsur Islam yang kompleks dalam kisah pewayangan yang sudah mendarah daging di kalangan penduduk Majapahit. Dengan melakonkan cerita Mahabarata, para mubaligh dapat memasukkan unsur-unsur sendi kepercayaan atau aqidah, ibadah dan juga akhlaqul-karimah. Sehingga pada masa itu wayang dijadikan sebuah alat metode dakwah Islam oleh para wali dan mubaligh dengan tujuan supaya pengikut agama Islam bertambah banyak khususnya di wilayah Jawa.

    Dalam hal esensi yang disampaikan dalam cerita-ceritanya tentunya disisipkan unsur-unsur moral ke-Islaman. Dalam lakon Bima Suci misalnya, Bima sebagai tokoh sentralnya diceritakan menyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Esa itulah yang menciptakan dunia dan segala isinya. Tak berhenti di situ, dengan keyakinannya itu Bima mengajarkannya kepada saudaranya, Janaka. Lakon ini juga berisi ajaran-ajaran tentang menuntut ilmu, bersikap sabar, berlaku adil, dan bertatakrama dengan sesama manusia.


    oleh Ghina Aldila Cahyani x ipa 1 (18)

  8. Alasan Bahasa Melayu Cepat Berkembang di Indonesia


    •   KETERANGAN BERDASARKAN ILMU BAHASA LINGUISTIK

    •  Kata Melayu berasal dari kata “Malaya” , dari kata Himalaya yang berarti tempat salju. Kata Malaya dan Melayu sering dikacaukan dengan kata “mlaya” yang berarti pergi kemana-mana atau mengembara, dan kata “mlayu” yang berarti orang yang mengungsi. Jadi orang-orang melayu setelah pindah ke selat Malaka dan mendarat di salah satu tempat di pulau Sumatra, kemudian menyebar dan menempati salah satu dataran tinggi di pulau itu.

    •  Pengertian Lingua Franca

    •  “Lingua Franca” yakni bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi umum di Nusantara atau sebagai bahasa persatuan dan bahasa penghubung. Istilah “Lingua Franca” sebenarnya berasal dari nama yang diberikan kepada bahasa Prancis, yang pernah menjadi bahasa umum di Eropa pada abad pertengahan. Dalam bahasa latin, “Lingua Franca” adalah bahasa Prancis.

    •  Bahasa Melayu bersifat sederhana. 

    • Bahasa melayu berkembang dengan cepat, hal ini disebabkan karena bahasa melayu termasuk bahasa yang mudah. Bahasa yang mudah berarti bahasa yang dengan cepat dapat dipelajari. Bahasa Melayu mengalami perkembangan Bahasa- Melayu kuno .- Melayu Klasik.- Bahasa Indonesia.

    • . Bahasa Melayu berkerabat dengan Bahasa Nusantara lainnya.

    •  Puncak dan pernyataan bahwa Bahasa Melayu dijadikan sebagai bahasa persatuan bangsa adalah diikrarkannya sumpah pemuda di Jakarta, yang dicetuskan oleh para pemuda dari berbagai penjuru nusantara, pada saat itulah lahir Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nusantara.

    • . PERKEMBANGAN LINGUA FRANCA

    • Menurut Prof .Dr. Slamet Mulyana, ada 4 faktor yang menjadi sebab diangkatnya Bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan, yaitu :
    • 1. Sejarah telah membantu penyebaran bahasa melayu.
    • 2. Bahasa melayu mempunyai sistem yang sederhana ditinjau dari segi fonologi, morfologi, dan sintaksis.
    • 3. Faktor psikologi, yaitu bahwa suku bangsa jawa dan sunda telah suka rela menerima bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.
    • 4. Kesanggupan bahasa itu sendiri.

    • Periode-periode bersejarah dalam perkembangan Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia:

    • a. Periode pertama: Bahasa Melayu tertua yang masih dapat diselidiki sebagai peninggalan masa lampau.
    • b. Periode kedua: Pada saat Malaka mengalami masa kejayaan (abad 15), yaitu ketika Malaka menjadi pusat perdagangan, bahasa kesastraan Melayu sangat pesat berkembang.
    • c. Periode ketiga: Masa dibangunnya kembali kesusastraan Melayu di Johor, sebagai gantinya kesusastraan yang lama dihilangkan.d. Periode keempat: Permulaan abad ke 19, dimasa pujangga Abdullah Bin Abdul Kadir Munsi bersama ayahnya, mempunyai perhatian besar terhadap bahasa dan kesusastraan Melayu.e. Periode kelima: Memasuki abad ke 20, boleh dikatakan bermulanya masa perkembangan Lingua franca menuju ke bahasa Indonesia.

    •  AWAL MULA BAHASA MELAYU MENJADI BAHASA INDONESIA

    •  Bahasa Indonesia yang kini dipakai oleh bangsa Indonesia sebagai bahasa resmi kenegaraan, dan bahasa komunikasi antara suku-suku bangsa Indonesia berasal dari Bahasa Melayu. Bahasa Melayu pada mulanya digunakan di kawasan nusantara, oleh penduduk di sekitar gugusan pulau nusantara yang terdekat di wilayah asia yaitu pantai timur Sumatra, semenanjung Malaka, dan pantai Camppa di Vietnam.
    •  Pada abad 1950 SM- 115 SM berdiri kerajaan Saba (Arabia selatan ), dan dilanjutkan dengan kerajaan Himiar. Diantara 2 kerajaan Saba dan Sumatra, telah ada hubungan langsung yaitu hubungan perdagangan rempah-rempah dari Maluku dan pulau –pulau lainnya. Semenjak terjadinya hubungan perdagangan tersebut, maka penduduk nusantara mempergunakan Bahasa Melayu.
    Dikutip dari Berbagai Sumber.

    Favian Ariiq Rahmat
    X- IPA 1 (17)
    Jawaban Uji Kompetensi Hal.199 No.1

  9. Letak Kerajaan Ternate dan Tidore sangat strategis sehingga dijadikan pelabuhan perdagangan rempah-rempah karena Maluku merupakan daerah pengahasil rempah-rempah terbesar. Sehingga banyak pedagang dari berbagai daerah maupun negara lain datang untuk membeli rempah-rempah. Kerajaan-kerajaan di Maluku sangat akrab menjalin hubungan ekonomi dengan pedagang Jawa. Hubungan kedua belah pihak sangat berpengaruh terhadap proses penyebaran Agama Islam. Seiring dengan ramainya perdagangan di Maluku, berdatangan para mubaligh dari Gresik, Jawa Timur untuk menyebarkan Agama Islam.

    Sumber: https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20140420235953AAF1c9F
    Shalsha Smara Nadyah (33)
    X IPA 1 SMAN 61 Jakarta
    Jawaban halaman 176 nomor 3

  10. KEJATUHAN KERAJAAN BANTEN  KE TANGAN VOC

    Pada tahun 1619 Kota Jayakarta jatuh ke tangan VOC dan membawa akibat buruk bagi Banten. Para pedagang dipaksa berlabuh di Jayakarta sehingga Banten menjadi sepi. Banten dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa mengobarkan perang pada VOC tetapi tidak didukung oleh putranya. Demi mendapatkan ketakhtaan Banten, Sultan Haji bersama VOC melawan Sultan Ageng Tirtayasa dan berhasil menangkapnya. Setelah itu, Banten diserahkan pada Sultan Haji tetapi dikontrol oleh VOC.





    Oleh : Angywa Nadhira ( X IPA 1)

  11. Soal no. 3 halaman 150:

    Menurut kamu mengapa para pedagang waktu itu memilih jalur perairan atau laut?
    Menurut saya, para pedagang memilih jalur perairan karena Nusantara merupakan negara kepulauan, yang dimana pelayaran adalah satu-satunya cara untuk mobilisasi antarpulau, mengingat pada masa itu belum ada pesawat terbang. Ditambah pula telah terbentuk jalur-jalur pelayaran dan perdagangan antara Kerajaan Sriwijaya dan negara-negara Asia Tenggara, India, dan Cina, sehingga tidak ada kebingungan lagi bagi para pedagang untuk berlayar ke Nusantara. Selain itu, kapal dianggap sebagai transportasi yang lebih praktis untuk membawa barang-barang bawaan untuk berdagang jika dibandingkan dengan menggunakan kuda (transportasi darat).

    Oleh: Ade Bunga Putri (X IPA 1)

  12. Sultan Baabullah adalah sultan Ternate terbesar. Ia bertahta pada 1570-1583. Ia menggantikan ayahnya Sultan Khairun, yg dibunuh oleh Portugis. Sultan Baabullah membalas dengan menyerang dan membuat Portugise menyerah tanpa syarat pada 26 Desember 1575. Portugis kemudian diusir dari Maluku. Pada masa pemerintahan Sultan Baabullah, kekuasaan Ternate berkembang luas. Selain berkembang ke seluruh wilayah kepulauan Maluku, kekuasaannya juga mencakup ke Bulton dan Pulau Selayar di Sulawesi Selatan. Sultan Baabullah diberi gelar " Heer van twee en zeventig eilanden " atau " Penguasa atas 72 pulau berpenghuni yang meliputi pulau-pulau di nusantara bagian timur, Mindanao selatan dan kepulauan Marshall.

    oleh : Iffa Maula Nur Prasasti
    x ipa 1
    sumber : http://brainly.co.id/tugas/79297

  13. PROSES ISLAMISASI DI MALUKU

    Minggu, 18 Mei 2014

    Jelaskan proses Islamiasi di Maluku! (halaman 176 no. 1)

    Masuknya Islam didaerah Maluku Tengah adalah melalui pedagang Islam yang datang dari Jawa Timur. Pusat Islam di Jawa Timur sesudah runtuhnya Majapahit adalah Gresik. Dari Gresik inilah datang ulama Islam bersama para pedagang ke Pulau Ambon, dan mereka semua berpusat di kota pelabuhan Hitu. Jadi, Hitu menjadi pusat penyebaran Islam pada daerah sekitarnya pada tahun 1500 M. diduga masuknya Islam di Pulau Kei pada tahun 1500 M.Diperkenalkannya agama Islam kepada penduduk Maluku mengakibatkan timbulnya proses Islamisasi. Proses religious cultural ini berpengaruh pada bidang politik pemerintahan sehingga timbul Kerajaan Islam. Islam juga memperkaya hukum adat setempat. Hukum Islam Nampak bergandengan dengan hukum adat. Penggunaan huruf Arab oleh raja-raja, bangsawan, dan penduduk setempat memperkaya pula bahasa daerah. Dari sudut kultur, agama Islam ikut pula menentukan corak kebudayaan masyarakat Maluku yang bercorak Islam.


    Oleh: Raihan Nugroho P
    Sumber: http://brainly.co.id/tugas/65764

  14. KESULTANAN BONE


                     Kesultanan Bone adalah kesultanan yang terletak di Sulawesi Selatan (saat ini). Sejak berakhirnya Kerajaan Gowa, Kesultanan Bone menjadi penguasa utama dibawah Belanda. Bone berada dibawah kontrol Belanda sampai tahun 1814 ketika Inggris berkuasa sementara di daerah ini, tetapi dikembalikan lagi ke Belanda pada tahun 1816 setelah perjanjian di Eropa akibat jatuhnya Napoleon Bonaparte.


                         Pada abad XIX Kerajaan Bone menjadi saingan Belanda dalam memperluas kekuasaan dalam bidang ekonomi dan politik. Akibatnya, kedua penguasa ini pernah terlibat dalam perang besar. Dalam sejarah daerah ini, perang itu terjadi pada tahun 1824-1825 yang bermula setelah Sultan Bone meninggal pada tahun 1823, dan digantikan oleh saudarinya Aru Datu (bergelar I-Maneng Paduka Sri Ratu Sultana Salima Rajiat ud-din), pemerintah kesultanan mencoba merevisi Perjanjian Bongaya, beserta semua anggota persekutuan itu, yang jatuh atas pemerintahan itu, hukum yang sama harus diberlakukan. Antara tanggal 8 Maret sampai 21 September 1824, GubJend. G.A.G.Ph. van der Capellen mengadakan lawatan ke Sulawesi dan Kepulauan Maluku; semua penguasa datang memberikan penghormatan (juga perwakilan Ratu Bone), kecuali penguasa Suppa dan Tanete. Van der Capellen berharap bahwa perundingan dengan negara-negara tersebut tidak akan membawa keuntungan apapun; sekembalinya ke Batavia, sebuah ekspedisi dipersiapkan dan sekitar 500 prajurit diberangkatkan dengan membawa 4 meriam, 2 howitzer, beserta 600 prajurit pembantu pribumi untuk menghukum Bone.

                   Sultan yang kini terguling lari ke pedalaman dan penduduk tetap melancarkan serangan atas Belanda namun masalah di Tanete cepat dibereskan dengan baik. Meskipun Suppa masih kuat; Letkol. Reeder melancarkan serangan bersama 240 prajurit yang dipersenjatai sejumlah moncong senjata; pada tanggal 14 Agustus serangan diperbaharui: orang Bugis membiarkan pasukan Belanda mendekat tanpa ancaman apapun hingga di kaki sebuah bukit dan barulah mereka melancarkan serangan; setelah kehilangan sepertiga pasukannya, Belanda harus mundur. De Stuers menyerbu bersama komisaris pemerintahan Tobias ke Suppa dan makin mendekat; pada pagi hari tanggal 30 Agustus, operasi itu berhasil diselesaikan, setelah tembakan meriam peringatan ke benting musuh, namun kekuatan yang dibawa De Stuers tak cukup kuat. Dengan korban tewas sebanyak 14 jiwa dan 60 korban luka-luka, pasukan Belanda harus kembali dan harus melancarkan ekspedisi lain.
    Lalu berturut-turut perang terjadi pada tahun1859-1860 dan perang yang terjadi pada tahun 1859-1860. Hingga Serangan yang dilancarkan pemerintah Kolonial pada tahun1905 yang menandai berakhirnya Kerajaan Bone pada masa La Pawawoi Karaeng Segeri. 

                    Sekali lagi Pemerintah Kolonial ingin meneggakkan supremasinya terhadap seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Kolonial Belanda menganggap Bone telah melanggar perjanjian sebelumnya bahwa Bone tidak boleh memperluas wilayah kekuasaanya, hingga munculnya bukti invasi militer Bone di Tana Toraja dan Wajo 1897-1900. Gubernur Hindia Belenda Baroon van Hoevell mengeluarkan surat perintah penghapusan penguasa pribumi Bone pada Maret 1903.
    Akhirnya pada Julli 1905 dilancarkanlah serangan terhdapa Kerajaan Bone oleh Belanda melalui pelabuhan Bajoe. Dengan berakhir pada kemenangan Belanda.














    Oleh: Dhonna Dwi Safitri/X IPA 1
    Sumber: http://jelajahi-imajinasiku.blogspot.com/2012/12/sejarah-bone-terbentuk-perkembangan-dan.html

  15. Latar belakang kerajaan
    Di Sulawesi Selatan pada abad 16 terdapat beberapa kerajaan bercorak Hindu di antaranya Gowa, Tallo, Bone, Sopeng, Wajo dan Sidenreng. Masing-masing kerajaan tersebut membentuk persekutuan sesuai dengan pilihan masing-masing.

    Salah satunya adalah kerajaan Gowa dan Tallo membentuk persekutuan pada tahun 1528, sehingga melahirkan suatu kerajaan yang lebih dikenal dengan sebutan kerajaan Makasar. Nama Makasar sebenarnya adalah ibukota dari kerajaan Gowa dan sekarang masih digunakan sebagai nama ibukota propinsi Sulawesi Selatan. Sebelum abad ke 16, kerajaan-kerajaan di Sulawesi masih bercorakkan Hindu, barulah ketika  adanya dakwah dari Dato'ri Bandang dan Dato' Sulaiman, perlahan-lahan kerajaan-kerajaan tersebut mulai memeluk islam. Kerajaan gowa-tallo sendiri merupakan sebuah Kerajaan yang bercorak Islam.  Setelah bergabung menjadi Gowa Tallo, Raja Gowa Daeng Manrabia menjadi Raja Gowa Tallo Karaeng Matoaya menjadi perdana menteri (patih) dan bergelar Sultan Abdullah.
    Secara geografis daerah Sulawesi Selatan memiliki posisi yang sangat strategis, karena berada di jalur pelayaran (perdagangan Nusantara). Bahkan daerah Makasar menjadi pusat persinggahan para pedagang baik yang berasal dari Indonesia bagian Timur maupun yang berasal dari Indonesia bagian Barat.
    Dengan posisi strategis tersebut maka kerajaan Makasar berkembang menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas jalur perdagangan Nusantara.


    A. Letak Kerajaan
















    Kerajaan Gowa dan Tallo lebih dikenal dengan sebutan Kerajaan Makassar. Kerajaan ini terletak di daerah Sulawesi Selatan. Secara geografis Sulawesi Selatan memiliki posisi yang penting, karena dekat dengan jalur pelayaran perdagangan Nusantara. Bahkan daerah Makassar menjadi pusat persinggahan para pedagang, baik yang berasal dari Indonesia bagian timur maupun para pedagang yang berasal dari daerah Indonesia bagian barat. Dengan letak seperti ini mengakibatkan Kerajaan Makassar berkembang menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas jalur perdagangan Nusantara.


    B. Raja-raja yang memerintah

    Raja Makasar yang pertama memeluk agama Islam adalah Karaeng Matoaya (Raja Gowa) yang bergelar Sultan Alaudin yang memerintah Makasar tahun 1593 1639 dan dibantu oleh Daeng Manrabia (Raja Tallo) sebagai Mangkubumi bergelar Sultan Abdullah. Sejak pemerintahan Sultan Alaudin kerajaan Makasar berkembang sebagai kerajaan maritim dan berkembang pesat pada masa pemerintahan raja Muhammad Said (1639 1653).
    Selanjutnya kerajaan Makasar mencapai puncak kebesarannya pada masa pemerintahan Sultan Hasannudin (1653 1669). Pada masa pemerintahannya Makasar berhasil memperluas wilayah kekuasaannya yaitu dengan menguasai daerah-daerah yang subur serta daerah-daerah yang dapat menunjang keperluan perdagangan Makasar. Perluasan daerah Makasar tersebut sampai ke Nusa Tenggara Barat.

    C. Kehidupan ekonomi

    Kerajaan Makasar merupakan kerajaan Maritim dan berkembang sebagai pusat perdagangan di Indonesia bagian Timur. Hal ini ditunjang oleh beberapa faktor :

    - letak yang strategis,
    - memiliki pelabuhan yang baik
    - jatuhnya Malaka ke tangan Portugis tahun 1511 yang menyebabkan banyak pedagang- pedagang yang pindah ke Indonesia Timur.

    Sebagai pusat perdagangan Makasar berkembang sebagai pelabuhan internasional dan banyak disinggahi oleh pedagang-pedagang asing seperti Portugis, Inggris, Denmark dan sebagainya yang datang untuk berdagang di Makasar.

    Pelayaran dan perdagangan di Makasar diatur berdasarkan hukum niaga yang disebut dengan ADE ALOPING LOPING BICARANNA PABBALUE, sehingga dengan adanya hukum niaga tersebut, maka perdagangan di Makasar menjadi teratur dan mengalami perkembangan yang pesat.
    Selain perdagangan, Makasar juga mengembangkan kegiatan pertanian karena Makasar juga menguasai daerah-daerah yang subur di bagian Timur Sulawesi Selatan.
    Faktor-faktor penyebab Kerajaan Gowa Tallo berkembang menjadi pusat perdagangan adalah sebagai berikut:
      1. Letaknya strategis yaitu sebagai penghubung pelayaran Malaka dan Jawa ke Maluku.
     2. Letaknya di muara sungai, sehingga lalu lintas perdagangan antar daerah pedalaman berjalan dengan baik.
     3. Di depan pelabuhan terdapat gugusan pulau kecil yang berguna untuk menahan gelombang dan angin, sehingga keamanan berlabuh di pelabuhan ini terjamin.
     4. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis mendorong para pedagang mencari daerah atau pelabuhan yang menjual belikan rempah-rempah.
     5. Halauan politik Mataram sebagai kerajaan agraris ternyata kurang memperhatikan pemngembangan pelabuhan-pelabuhan di Jawa. Akibatnya dapat diambil alih oleh Makasar.
     6. Kemahiran penduduk Makasar dalam bidang pelayaran dan pembuatan kapal besar jenis Phinisi dan Lambo.

    D. Kehidupan Sosial Budaya

    Sebagai negara Maritim, maka sebagian besar masyarakat Makasar adalah nelayan dan pedagang. Mereka giat berusaha untuk meningkatkan taraf kehidupannya, bahkan tidak jarang dari mereka yang merantau untuk menambah kemakmuran hidupnya.

    Walaupun masyarakat Makasar memiliki kebebasan untuk berusaha dalam mencapai kesejahteraan hidupnya, tetapi dalam kehidupannya mereka sangat terikat dengan norma adat yang mereka anggap sakral. Norma kehidupan masyarakat Makasar diatur berdasarkan adat dan agama Islam yang disebut PANGADAKKANG. Dan masyarakat Makasar sangat percaya terhadap norma-norma tersebut.

    Di samping norma tersebut, masyarakat Makasar juga mengenal pelapisan sosial yang terdiri dari lapisan atas yang merupakan golongan bangsawan dan keluarganya disebut dengan Anakarung/Karaeng, sedangkan rakyat kebanyakan disebut to Maradeka dan masyarakat lapisan bawah yaitu para hamba-sahaya disebut dengan golongan Ata.

    Dari segi kebudayaan, maka masyarakat Makasar banyak menghasilkan benda-benda budaya yang berkaitan dengan dunia pelayaran. Mereka terkenal sebagai pembuat kapal. Jenis kapal yang dibuat oleh orang Makasar dikenal dengan nama Pinisi dan Lombo.









    Kapal Pinisi dan Lombo merupakan kebanggaan rakyat Makasar dan terkenal sampai mancanegara.



    E. Kehidupan politik

    Penyebaran Islam di Sulawesi Selatan dilakukan oleh Datuk Robandang/Dato Ri Bandang dari Sumatera, sehingga pada abad 17 agama Islam berkembang pesat di Sulawesi Selatan, bahkan raja Makasar pun memeluk agama Islam.

    Raja Makasar yang pertama memeluk agama Islam adalah Karaeng Matowaya Tumamenanga Ri Agamanna (Raja Gowa) yang bergelar Sultan Alaudin yang memerintah Makasar tahun 1591 1638 dan dibantu oleh Daeng Manrabia (Raja Tallo) bergelar Sultan Abdullah. Sejak pemerintahan Sultan Alaudin kerajaan Makasar berkembang sebagai kerajaan maritim dan berkembang pesat pada masa pemerintahan raja Muhammad Said (1639 1653).

    Selanjutnya kerajaan Makasar mencapai puncak kebesarannya pada masa pemerintahan Sultan Hasannudin (1653 1669). Pada masa pemerintahannya Makasar berhasil memperluas wilayah kekuasaannya yaitu dengan menguasai daerah-daerah yang subur serta daerah-daerah yang dapat menunjang keperluan perdagangan Makasar. Ia berhasil menguasai Ruwu, Wajo, Soppeng, dan Bone.Perluasan daerah Makasar tersebut sampai ke Nusa Tenggara Barat.

    Daerah kekuasaan Makasar luas, seluruh jalur perdagangan di Indonesia Timur dapat dikuasainya. Sultan Hasannudin terkenal sebagai raja yang sangat anti kepada dominasi asing. Oleh karena itu ia menentang kehadiran dan monopoli yang dipaksakan oleh VOC yang telah berkuasa di Ambon. Untuk itu hubungan antara Batavia (pusat kekuasaan VOC di Hindia Timur) dan Ambon terhalangi oleh adanya kerajaan Makasar. Dengan kondisi tersebut maka timbul pertentangan antara Sultan Hasannudin dengan VOC, bahkan menyebabkan terjadinya peperangan. Peperangan tersebut terjadi di daerah Maluku.

    Dalam peperangan melawan VOC, Sultan Hasannudin memimpin sendiri pasukannya untuk memporak-porandakan pasukan Belanda di Maluku. Akibatnya kedudukan Belanda semakin terdesak. Atas keberanian Sultan Hasannudin tersebut maka Belanda memberikan julukan padanya sebagai Ayam Jantan dari Timur. Upaya Belanda untuk mengakhiri peperangan dengan Makasar yaitu dengan melakukan politik adu-domba antara Makasar dengan kerajaan Bone (daerah kekuasaan Makasar). Raja Bone yaitu Aru Palaka yang merasa dijajah oleh Makasar mengadakan persetujuan kepada VOC untuk melepaskan diri dari kekuasaan Makasar. Sebagai akibatnya Aru Palaka bersekutu dengan VOC untuk menghancurkan Makasar.

    Akibat persekutuan tersebut akhirnya Belanda dapat menguasai ibukota kerajaan Makasar. Dan secara terpaksa kerajaan Makasar harus mengakui kekalahannya dan menandatangai perjanjian Bongaya tahun 1667 yang isinya tentu sangat merugikan kerajaan Makasar.

    Isi dari perjanjian Bongaya antara lain:
    a. VOC memperoleh hak monopoli perdagangan di Makasar.
    b. Belanda dapat mendirikan benteng di Makasar.
    c. Makasar harus melepaskan daerah-daerah jajahannya seperti Bone dan pulau-pulau di luar Makasar.
    d. Aru Palaka diakui sebagai raja Bone.


    Walaupun perjanjian telah diadakan, tetapi perlawanan Makasar terhadap Belanda tetap berlangsung. Bahkan pengganti dari Sultan Hasannudin yaitu Mapasomba (putra Hasannudin) meneruskan perlawanan melawan Belanda.
    Untuk menghadapi perlawanan rakyat Makasar, Belanda mengerahkan pasukannya secara besar-besaran. Akhirnya Belanda dapat menguasai sepenuhnya kerajaan Makasar, dan Makasar mengalami kehancurannya.


    F. Peninggalan sejarah

    Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa'risi' kallonna. Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros. Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan. Nama asli benteng in i adalah Benteng Ujung Pandang.

    Masjid Katangka
    Mesjid Katangka didirikan pada tahun 1605 M. Sejak berdirinya telah mengalami beberapa kali pemugaran. Pemugaran itu berturut-turut dilakukan oleh Sultan Mahmud  (1818), Kadi Ibrahim (1921), Haji Mansur Daeng Limpo, Kadi Gowa (1948), dan Andi Baso, Pabbicarabutta Gowa (1962) sangat sulit mengidentifikasi bagian paling awal (asli) bangunan mesjid tertua Kerajaan Gowa ini.
     
    Kompleks makam raja gowa tallo
    Makam raja-raja. Tallo adalah sebuah kompleks makam kuno yang dipakai sejak abad XVII sampai dengan abad XIX Masehi. Letaknya di RK 4 Lingkungan Tallo, Kecamatan Tallo, Kota Madya Ujungpandang. Lokasi makam terletak di pinggir barat muara sungai Tallo atau pada sudut timur laut dalam wilayah benteng Tallo. Ber¬dasarkan basil penggalian (excavation) yang dilakukan oleh Suaka Peninggalan sejarah dan Purbakala (1976¬-1982) ditemukan gejala bah wa komplek makam ber¬struktur tumpang-tindih. Sejumlah makam terletak di atas pondasi bangunan, dan kadang-kadang ditemukan fondasi di atas bangunan makam.
    Kompleks makam raja-raja Tallo ini sebagian ditempat¬kan di dalam bangunan kubah, jirat semu dan sebagian tanpa bangunan pelindung: Jirat semu dibuat dan balok¬balok ham pasir. Bangunan kubah yang berasal dari kuran waktu yang lebih kemudian dibuat dari batu bata. Penempatan balok batu pasir itu semula tanpa memper¬gunakan perekat. Perekat digunakan Proyek Pemugaran. Bentuk bangunan jirat dan kubah pada kompleks ini kurang lebih serupa dengan bangunan jirat dan kubah dari kompleks makam Tamalate, Aru Pallaka, dan Katangka. Pada kompleks ini bentuk makam dominan berciri abad XII Masehi.

    Keruntuhan kerajaan
    Raja Bone Aru Palaka meminta bantuan Belanda untuk menyerang Hasanuddin karena wilayahnya dikuasai Gowa Tallo, maka dengan cepat Belanda menyambutnya.
    Belanda menyerang dari laut, sedangkan Aru Palaka menyerang dari darat. Dengan tekanan yang demikian berat akhirnya Belanda mempu memaksa Gowa Tallo menandatangani Perjanjian Bongaya (1667).
    Isi dari perjanjian Bongaya antara lain:
    a. VOC memperoleh hak monopoli perdagangan di Makasar.
    b. Belanda dapat mendirikan benteng di Makasar.
    c. Makasar harus melepaskan daerah-daerah jajahannya seperti Bone dan pulau-pulau di luar Makasar.
    d. Aru Palaka diakui sebagai raja Bone.


    Gowa Tallo menyerah kepada Belanda tahun 1669.
    Akibat penyerahan Gowa Tallo kepada Belanda adalah seperti berikut:
    Peranan Makasar sebagai pusat pelayaran dan perdagangan di Indonesia Timur berakhir.
    Belanda menguasai Gowa Tallo dan mendirikan benteng di New Rotterdam.
    Pejuang Makasar banyak yang pergi ke luar daerah untuk melanjutkan perjuangannya melawan penjajah Belanda. Para pejuang tersebut antara lain Kraeng Galengsung dan Montemaramo yang pergi ke Jawa melanjutkan perjuangannya di Jawa.

    Beberapa akibat di atas mengakhiri Kerajaan Gowa Tallo (Makasar) dan berakhir pula peranannya sebagai pelabuhan transito yang besar.

    Catatan :
    Kerajaan Gowa Tallo
    Prinsip damai Kerajaan Gowa dalam menyebarluaskan Islam dapat dicermati ketika Raja Gowa XIV Sultan Alauddin bersama Mangkubumi (Raja Tallo) Sultan Awwalul Islam dan pasukannya mendatangi Bone untuk mengajak memeluk Islam. Mereka tiba di Bone dan mengambil tempat di Palette. La Tenriruwa, Raja Bone XI, adalah raja Bone yang pertama memeluk agama Islam. Setelah mengadakan pembicaraan antara Raja Gowa dan Raja Bone, rakyat Bone dikumpulkan di suatu lapangan terbuka karena Raja akan menyampaikan sesuatu kepada mereka. Berkatalah Raja Bone La Tenriruwa kepada rakyat banyak :
    Hai rakyat Bone, saya sampaikan padamu, bahwa kini Raja Gowa datang ke Bone menunjukkan jalan lurus bagi kita sekalian ialah agama Islam, mari kita sekalian terima baik Raja Gowa itu. Karena bagi saya sendiri sudah tidak ada kesangsian apa-apa. Saya sudah yakin benar bahwa Islam inilah agama yang benar, yaitu menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mengikut Nabi Muhammad saw.
    Selanjutnya Raja Bone La Tenriruwa berkata lagi:
    Memang ada kata sepakat moyang kami dengan Raja Gowa yang mengatakan, bahwa barangsiapa di antara kita mendapat kebaikan, dialah menuntun di depan. Raja Gowa berkata bahwa bila agama Islam diterima oleh kita, maka Gowa dan Bone adalah dua sejoli yang paling tangguh di tengah lapangan. Bila kita terima agama Islam, maka kita tetap pada tempat kita semula. Akan tetapi, bila kita diperangi dahulu dan dikalahkan, baru kita terima agama Islam, maka jelas rakyat Bone akan menjadi budak dari Gowa. Saya kemukakan keterangan ini, kata Raja Bone La Tenriruwa, bukan karena saya takut berperang lawan orang-orang Makassar. Tapi kalau semua kata-kata dan janji Raja Gowa itu diingkarinya, maka saya akan turun ke gelanggang, kita akan lihat saya ataukah Raja Gowa yang mati.
    Demikian isi pidato Raja Bone La Tenriruwa kepada rakyat banyak.
    Kalau kita mencermati petikan pidato di atas dapat dipahami, bahwa betapa Raja Gowa memiliki maksud yang baik kepada Raja Bone dan Rakyat Bone untuk hanya semata-mata agar memeluk Islam. Bahkan dikatakan kepada mereka, jika mau memeluk Islam maka Kerajaan Bone dan Gowa hidup sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Namun, sekalipun Raja Bone La Tenriruwa sudah memeluk Islam lalu mengajak rakyatnya, maka rakyatnya pun menolak bahkan Ade Pitue (Hadat Tujuh) memecat La Tenriruwa dari tahtanya, dan bermufakat mengangkat La Tenripale to Akkapeang menjadi raja Bone XII (1611-1625). Akhirnya, Raja Bone XII inilah yang berperang dengan Raja Gowa sehingga ditaklukkan oleh Gowa, kemudian mereka masuk Islam.
    Abdul Razak Daeng Patunru (1969: 21) menguraikan bagaimana Gowa mengajak kerajaan-kerajaan memeluk Islam, Pada hakekatnya Raja Gowa sebagai seorang Muslim dan memegang teguh prinsip agama Islam, bahwa penyebaran Islam harus dilakukan secara damai. Pada mulanya sama sekali tidak bermaksud untuk memaksa raja-raja menerima Islam, tetapi karena ternyata kepada Baginda, bahwa selain raja-raja itu menolak seruan Baginda, mereka pun mengambil sikap dan tindakan yang nyata untuk menentang kekuasaan dan pengaruh Gowa yang sejak dahulu telah tertanam di tanah-tanah Bugis pada umumnya.
    Hubungan Kerajaan Gowa dengan Khilafah Islamiyah
    Hubungan Kerajaan Gowa dengan Khilafah Islamiyah pada waktu itu, yang dapat kita pahami adalah dalam hal pemberian gelar sultan kepada raja-raja Gowa yang diberikan oleh Mufti Makkah menurut penuturan Andi Kumala Idjo, SH sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya.
    Mirip dengan pernyataan Prof. DR. M. Ahmad Sewang, pakar Sejarah UIN Alauddin Makassar, bahwa memang pada masa kerajaan-kerajaan dulu telah masuk Islam, ada semacam pengakuan atau legitimasi yang harus datang dari Turki Utsmani sebagai spiritual power (Dunia Islam masa itu) kepada raja terpilih. Beliau mencontohkan legitimasi Sultan Buton oleh Turki Utsmani sekalipun beliau mengatakan tidak sejauh itu pernah membahas masalah ini. Hanya saja, Bapak Prof. Sewang menambahkan, bahwa Turki Utsmani adalah Khalifah.

    Selain itu yang dapat kita lihat adalah foto Raja Gowa yang ke-33, I Mallingkaan Daeng Nyonri Sultan Idris (1893-1895), yang terpajang di Museum Ballalompoa saat ini, menurut Andi Kumala Idjo, SH adalah pakaian Turki dilihat dari baju dan songkok Turkinya.

    Sumber : http://fatwarohman.blogspot.com
    Oleh   : Citra Ardelia