Rss Feed
  1. Perjanjian Bungaya

    Minggu, 25 Mei 2014

    Sultan Hasanuddin lahir di Makassar, merupakan putera kedua dari Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-15. Sultan Hasanuddin memerintah Kerajaan Gowa, ketika Belanda yang diwakili Kompeni sedang berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah. Gowa merupakan kerajaan besar di wilayah timur Indonesia yang menguasai jalur perdagangan.
    Pada tahun 1666, di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, Kompeni berusaha menundukkan kerajaan-kerajaan kecil, tetapi belum berhasil menundukkan Gowa. Di lain pihak, setelah Sultan Hasanuddin naik takhta, ia berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk melawan Kompeni.
    Pertempuran terus berlangsung, Kompeni menambah kekuatan pasukannya hingga pada akhirnya Gowa terdesak dan semakin lemah sehingga pada tanggal 18 November 1667 bersedia mengadakan Perjanjian Bungaya di Bungaya.


    Berikut isi dari perjanjian Bungaya :

    1. VOC menguasai monopoli perdagangan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.


    2. Makasar harus melepas seluruh daerah bawahannya, seperti Sopeng, Luwu, Wajo, dan Bone.


    3. Aru Palaka dikukuhkan sebagai Raja Bone.


    4. Makasar harus menyerahkan seluruh benteng-bentengnya.


    5. Makasar harus membayar biaya perang dalam bentuk hasil bumi kepada VOC setiap tahun.

    Gowa merasa dirugikan, karena itu Sultan Hasanuddin mengadakan perlawanan lagi. Akhirnya pihak Kompeni meminta bantuan tentara ke Batavia. Pertempuran kembali pecah di berbagai tempat. Sultan Hasanuddin memberikan perlawanan sengit. Bantuan tentara dari luar menambah kekuatan pasukan Kompeni, hingga akhirnya Kompeni berhasil menerobos benteng terkuat Gowa yaitu Benteng Sombaopu pada tanggal 12 Juni 1669. Sultan Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dari takhta kerajaan dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670.

    Asal muasal kata Bungaya memiliki banyak versi. Seorang tokoh masyarakat di daerah Barombong, Daeng Manangkasi mengungkapkan, Bungaya berasal dari kata Bunga, yang bermakna kembang. Menurutnya, Perjanjian Bungaya itu ditandatangai dengan harapan terwujudnya perdamaian sebagaimana damainya rupa bunga, dan menghindari jatuhnya korban yang lebih banyak dari masyarakat Gowa.

    Pada intinya, Sultan Hasanudin terpaksa bersedia menandatangani perjanjian Bungaya yang sebetulnya merugikan Kerajaan Gowa atas dasar rasa kemanusiaan untuk menghentikan atau mengurangi jumlah korban yang terus berjatuhan dalam perselisihan antara pihak kompeni dan Kerjaaan Gowa.

    Dalam mengambil segala keputusan, hendaknyalah kita berpikir matang terlebih dahulu dan mempertimbangakan untung rugi dari keputusan yang akan kita ambil. Sikap Sultan Hasanudin adalah sikap seorang pemimpin yang bijak, ia menandatangani perjanjian Bungaya demi melindungi masyarakat gowa dari para kompeni dan menciptakan perdamaian.

    Jawaban dari pertanyaan :
    Jelaskan apa makna dan pelajaran yang kita peroleh tentang perjanjian Bungaya di Sulawesi! (Halaman 174).

    Romi Putra
    X IPA 1

    Sumber :
    http://buihkata.blogspot.com/2012/11/isi-perjanjian-bongaya.html
    http://id.wikipedia.org/wiki/Perdamaian_Bungaya
    http://www.inibangsaku.com/menelusuri-jejak-sejarah-perjanjian-bungaya/
    http://id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Hasanuddin



  2. 0 komentar:

    Posting Komentar