Rss Feed
  1. Kerajaan Sriwijaya

    Minggu, 27 April 2014


    Sriwijaya, adalah salah satu kemaharajaan bahari yang pernah berdiri di pulau Sumatra dan banyak memberi pengaruh di Nusantara dengan daerah kekuasaan membentang dari Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung malaya, Sumatra, Jawa, dan pesisir Kalimantan.



    Bukti awal mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari abad ke-7; seorang pendeta Tiongkok, I Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 dan tinggal selama 6 bulan. Selain itu juga terdapat berbagai peninggalan-peninggalan lain yang menjadi bukti keberadaan kerajaan Sriwijaya, diantaranya adalah :


    1.       Prasasti Kedudukan Bukit (605 Saka=683 M)
    Prasasti ini berbahasa sanskerta yang menyebutkan tentang perjalanan suci (Shidartayatsa) yang dilakukan oleh Dapunta Hyang dari Minangatamwan. Perjalanan tersebut berhasil menaklukan beberapa daerah.

    2.       Prasasti Talang Tuo (606=648 M)

    Berisi tentang pembuatan kebun (taman) yang di beri nama srikstra atas perintah Dapunta Hyang Srijayanegara untuk kemakmuran semua makhluk. Dimuat juga doa-doa agama Budha Mahayana.

    3.       Prasati Talaga Batu (tanpa angka tahun)

    Prasasti ini berbahasa melayu dan berhuruf palawa, berisi tentang kutukan-kutukan kepada siapa saja yang tidak tunduk kepada raja. Ditemukan di Telaga Batu dekat Palembang.

    4.       Prasasti Kota Kapur (608 Saka=686)

    Ditemukan di pulau bangka. Prasasti ini berhuruf palawa dan berbahasa sanskerta, berisi tentang permohonan kepada dewa untuk menjaga kerajaan Sriwijaya dan menghukum siapa saja yang akan bermaksud jahat. Prasati ini juga menyebutkan tentang penyerangan Sriwijaya ke sebuah kerajaan (kemungkinan adalah kerajaan Tarumanegara).

    Berikut ini beberapa peran penting Kerajaan Sriwijaya :


    1.  Sriwijaya sebagai kerajaan Maritim yang besar

    Dari bukti-bukti historis yang ada dapat di simpulkan bahwa Sriwijaya merupakan kerajaan maritime yang mampu menguasai dan mengontrol perdagangan di wilayah Nusantara. Perannya sebagai Negara maritim tidak terlepas dari faktor-faktor berikut:

    a.  Letak Sriwijaya strategis

    b.  Sriwijaya mempunyai potensi alam sehingga menarik para pedagang untuk singgah di Sriwijaya.

    c.   Keruntuhan kerajaan maritim Funan (di indoCina) yang awalnya merupakan penguasa  perdagangan di kawasan Asia Tenggara.

           

    Keuntungan Kerajaan Sriwijaya sebagai Negara maritim antara lain:
    a.      Bea masuk barang dagangan yang melewati Bandar-bandarnya.

    b.      Bea masuk kapal yang melewati wilayahnya dan berlabuh di Bandar-bandarnya.

    c.       Upeti persembahan dari para pedagang dan raja-raja taklukan.

    d.      Hasil keuntungan dari perdagangan Sriwijaya sendiri.



    2.  Sriwijaya sebagai Pusat Agama Budha di Asia Tenggara

    Sriwijaya merupakan kerajaan budha yang menganut aliran Budha Mahayana. Sebagai pusat agama budha, di Sriwijaya banyak didirikan biara-biara yang didiami oleh ratusan bhiksu. Di Sriwijaya juga didirikan perguruan tinggi yang mengajarkan ilmu dan kebudayaan Budha. Gurunya yang terkenal antara lain Sakyakirti dan Dhamakirti. Sriwijaya juga mengirim bhiksu-bhiksu untuk belajar ke india yaitu ke Nalanda (860 M). Terdapat juga sebuah prasati yang bernama prasasti nalanda yang isinya tentang pembebasan pajak beberapa buah desa agar dapat member nafkah kepada para Bhiksu dalam sebuah biara yang dibangun oleh balaputra dewa yang merupakan keturunan Mataram dari dinasti Sanjaya yang menjadi raja terbesar Sriwijaya.

     

    KEHIDUPAN EKONOMI

    Kerajaan Sriwijaya
     adalah salah satu kerajaan terbesar di Indonesia pada masa silam. Kerajaan Sriwijaya mampu mengembangkan diri sebagai negara maritim yang pernah menguasai lalu lintas pelayaran dan perdagangan internasional selama berabad-abad dengan menguasai Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Jawa. Setiap pelayaran dan perdagangan dari Asia Barat ke Asia Timur atau sebaliknya harus melewati wilayah Kerajaan Sriwijaya yang meliputi seluruh Sumatra, sebagian Jawa, Semenanjung Malaysia, dan Tahailand Selatan. Keadaan ini juga yang membawa penghasilan Kerajaan Sriwijaya terutama diperoleh dari komoditas ekspor dan bea cukai bagi kapalkapal yang singgah di pelabuhan-pelabuhan milik Sriwijaya. Komoditas ekspor Sriwijaya antara lain kapur barus, cendana, gading gajah, buah-buahan, kapas, cula badak, dan wangi-wangian. Faktor- faktor yang mendorong Sriwijaya muncul menjadi kerajaan besar adalah sebagai berikut.
    • Letaknya yang sangat strategis di jalur perdagangan.
    • Kemajuan pelayaran dan perdagangan antara Cina dan India melalui Asia Tenggara.
    • Runtuhnya Kerajaan Funan di Indocina. Dengan runtuhnya Funan memberikan kesempatan kepada Sriwijaya untuk berkembang sebagai negara maritim menggantikan Funan.
    • Sriwijaya mempunyai kemampuan untuk melindungi pelayaran dan perdagangan di perairan Asia Tenggara dan memaksanya singgah di pelabuhan-pelabuhan.

    RUNTUHNYA KERAJAAN SRIWIJAYA

    Kerajaan Sriwijaya mundur sejak abad ke-10 disebabkan oleh faktor-faktor berikut :

    • Perubahan keadaan alam di sekitar Palembang. Sungai Musi, Ogan Komering, dan sejumlah anak sungai lainnya membawa lumpur yang diendapkan di sekitar Palembang sehingga posisinya menjauh dari laut dan perahu sulit merapat.
    • Letak Palembang yang makin jauh dari laut menyebabkan daerah itu kurang strategis lagi kedudukannya sebagai pusat perdagangan nasional maupun internasional. Sementara itu, terbukanya Selat Berhala antara Pulau Bangka dan Kepulauan Singkep dapat menyingkatkan jalur perdagangan internasional sehingga Jambi lebih strategis daripada Palembang.
    • Dalam bidang politik, Sriwijaya hanya memiliki angkatan laut yang diandalkan. Setelah kekuasaan di Jawa Timur berkembang pada masa Airlangga, Sriwijaya terpaksa mengakui Jawa Timur sebagai pemegang hegemoni di Indonesia bagian timur dan Sriwijaya di bagian barat.
    • Adanya serangan militer atas Sriwijaya. Serangan pertama dilakukan oleh Teguh Dharmawangsa terhadap wilayah selatan Sriwijaya (992) hingga menyebabkan utusan yang dikirim ke Cina tidak berani kembali. Serangan kedua dilakukan oleh Colamandala atas Semenanjung Malaya pada tahun 1017 kemudian atas pusat Sriwijaya pada tahun 1023 – 1030. Dalam serangan ini, Raja Sriwijaya ditawan dan dibawa ke India. Ketika Kertanegara bertakhta di Singasari juga ada usaha penyerangan terhadap Sriwijaya, namun baru sebatas usaha mengurung Sriwijaya dengan pendudukan atas wilayah Melayu. Akhir dari Kerajaan Sriwijaya adalah pendudukan oleh Majapahit dalam usaha menciptakan kesatuan Nusantara (1377). 
    Romi Putra (X IPA 1)

    sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Sriwijaya
                   http://rahmandiligent.blogspot.com/p/kerajaan-sriwijaya.html






  2. 3 komentar:

    1. Terima kasih gan, sangat bermanfaat

    2. Anonim mengatakan...

      Kerajaan sriwijaya sedari awal memang sudah berada dipalembang jauh sebelum peristiwa sidhayatra jaya sriwijaya 683M, sebagaimana dalam prasasti kedukan bukit itu.
      fakta sejarah yang berdasarkan keterangan itsing tahun 671 itsing sudah berada di kerajaan sriwijaya dengan sebutan she-le-foshih. dengan ibukota foshih yang terletak di sungai fishih.
      setelah 6 bulan tinggal di kota foshih, itsing melanjutkan pelayaranya ke melayu
      setelah 15hari berlayar dari shelifoshih itsing tiba di kerajaan melayu.tahun 683 sriwijaya melakukan perluwasan wilayah dibawah pimpinan raja sriwijaya dapuntahyang sri jaya nasa sriwijaya menaklukan minangatamwan. dalam prasasti kedukan bukit yang nanti akan kita bahas panjang lebar tahun 683 minangatamwan takluk oleh sriwijaya. tahun 683M itu bukanlah pendirian sriwijaya sebab 670M sriwijaya sudah berdiri. dan bukan pula 683 itu pemindahan ibukota dari minangatamwan ke sriwijaya sebab tahun 670 ibu kota sriwijaya sudah berada di foshih/ kota jaya/ kota wijaya atau kota mushi. sungai fosih itu jelas sungai mushi.pendapat yang mengatakan thn683 M adalah pendirian kerajaan sriwijaya atau pemindahan ibukota sriwijaya jelas hal itu sangat bertentangan dengan fakta sejarah yang ada bersumber dari keterangan itsing tsb.
      kalau saya pribadi saya setuju dengan pendapat jg codes dan slamet mulyana yang mengatakan sriwijaya selamanya berada di palembang. tahun 683 itu adalah penaklukan sriwijaya atas negri minangatamwan.memang sejak itu minangatamwan takpernah terdengar lagi hilang lenyab bak di telan bumi. tapi sriwijaya semakin malang melintang dan bersinar dalam sejarah.
      asal usul dapuntahyang srijaya nasa raja sriwijaya yang menaklukan minangatamwan berdasarkan prasasti yang memuat silsilah leluhur beliau belum temukan. tapi berdasarkan bahasa yang di pakai dapuntahyang sri jaya nasa dalam membuat prasasti baik yang ada di sumatra dan jawa dapatlah disimpulkan darimana asal usul dapuntahyang sri jaya nada ini.dari bahasa prasasti sriwijaya itu menggunakan bahasa sanskerta india bahasa melayu palembang dan bahasa sunda. dari situ dapat disimpulkan dapuntahyang berasal dari keturunan india bercampur melayu palembang dan sunda. paling tidak agama dapunta berasal dari agama india / budah pada saat pembuatan prasasti. tapi dapunta bukanlah orang india asli yang datang dari infia langsung, sebab dapunta hyang juga memakai bahasa melayu palembang dan sedikit bahasa sunda.tentang kosakata melayu palembang /bahasa palembang lama dalam prasasti sriwijaya nanti akan kita bahas pula panjang lebar.

    Posting Komentar